banner 728x250

Hardiknas 2026: Guru SMKN 1 Ampelgading Ajak Pendidik Jaga ‘Kontrak Langit’

  • Bagikan

AMKMedianews.com, Pemalang – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 menjadi pemantik semangat bagi para pendidik untuk melihat kembali esensi mengajar. Di tengah gempuran teknologi, pendidikan bukan sekadar ajang transfer ilmu pengetahuan, melainkan misi kemanusiaan yang mendalam.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Mohamad Masruri, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMKN 1 Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Menurutnya, tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, adalah sebuah pengingat akan adanya “kontrak langit” antara guru, siswa, dan Sang Pencipta.

​Bukan Sekadar Cetak ‘Mesin’ Kerja

​Dalam wawancara via WhatsApp pada Sabtu (2/5/2026), Masruri menyoroti tantangan dunia SMK yang sering kali terjebak pada tuntutan industri semata. Ia berpendapat, pendidikan yang bermutu harus mampu menyentuh sisi kemanusiaan siswa, terutama mereka yang datang dari latar belakang ekonomi sulit.”Kita tidak sedang mencetak mesin yang bekerja tanpa rasa. Kita sedang membentuk insan kamil yang tangguh menghadapi dunia namun tetap memiliki integritas tinggi. Pendidikan harus menjadi rahmat bagi semua, tanpa ada siswa yang merasa terbuang,” tegasnya.

​Kolaborasi ‘Partisipasi Semesta’

​Masruri menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan memerlukan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat atau yang disebutnya sebagai “simfoni kerja sama”. Guru tidak bisa berjalan sendirian; dukungan pemerintah, keterlibatan dunia industri, hingga doa orang tua di sepertiga malam adalah fondasi utama.”Kita butuh industri yang peduli pada karakter, bukan sekadar mencari tenaga kerja murah. Jika semua elemen bersatu, pendidikan bermutu akan menjadi hak yang bisa dinikmati siapa saja, layaknya udara,” kata Masruri.

​Keseimbangan Hard Skills dan Heart Skills

​Di era disrupsi tahun 2026, di mana kecerdasan buatan mulai mengambil peran manusia, Masruri mengingatkan agar siswa tidak kehilangan “kompas moral”. Keterampilan teknis di bengkel atau laboratorium wajib diimbangi dengan ketulusan hati dan empati.

​Ia memandang setiap detik proses belajar-mengajar di sekolah sebagai bentuk ibadah. Baginya, pendidikan adalah jalur untuk menjemput keberkahan, bukan sekadar tangga untuk mencari pekerjaan.”Setiap nasihat dan doa yang kita berikan untuk murid adalah sedekah jariyah. Mari kita rawat masa depan bangsa ini dengan hati, karena apa yang datang dari hati, akan sampai ke hati,” pungkasnya dengan penuh haru.

​Melalui refleksi ini, diharapkan Hardiknas 2026 menjadi titik balik bagi penguatan peradaban yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara akhlak.

Narasumber: Mohamad Masruri, S.Pd.I (Guru PAI SMKN 1 Ampelgading)

Penulis /Editor : Ahmad Joko SSp, S.H.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *