AMKMedianews. Semarang – Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat sektor pendidikan keagamaan. Melalui program unggulan “Pesantren Obah”, pemprov tercatat telah menyalurkan insentif kepada ratusan ribu pengajar lintas agama serta menyiapkan beasiswa pendidikan bagi santri dan pengasuh pesantren.
Berdasarkan data Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 230.830 guru agama telah menerima insentif sepanjang tahun 2025. Para penerima tersebut terdiri dari guru agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, hingga Konghucu. Total anggaran yang telah dicairkan untuk program ini mencapai Rp277,04 miliar.
Plt. Kepala Biro Kesra Setda Jateng, Gunawan Sudharsono, menjelaskan bahwa setiap guru agama menerima stimulan sebesar Rp1,2 juta per tahun yang disalurkan dalam tiga tahap.”Seluruh anggaran tahun 2025 telah tuntas dicairkan dan kami pastikan program ini berlanjut pada tahun 2026,” ujar Gunawan di Semarang, Senin (23/2/2026)
Selain insentif tenaga pendidik, Pemprov Jateng juga memberikan bisyaroh atau tali asih kepada 2.000 santri penghafal Al-Qur’an (hafidz). Masing-masing santri menerima bantuan senilai Rp1 juta.
Inovasi program berlanjut di tahun 2026 melalui skema beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren. Pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp6,8 miliar untuk membiayai 60 penerima beasiswa, yang terbagi rata untuk studi di dalam dan luar negeri. Beasiswa ini mencakup jenjang vokasi hingga doktoral (S3).”Proses pendaftaran telah dibuka sejak 18 Februari melalui aplikasi JNN-Jateng Ngopeni Nglakoni. Kami juga telah membentuk Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) untuk menjamin seleksi yang transparan,” tambah Gunawan.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pemberian insentif ini merupakan instrumen penting untuk mengapresiasi jasa para guru agama. Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dukungan tersebut di tahun mendatang.
Senada dengan hal itu, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menyebutkan bahwa kebijakan ini adalah bukti nyata kehadiran negara di tengah dunia pesantren dan komunitas agama. “Pemerintah hadir untuk mengapresiasi para penghafal Al-Qur’an dan pengajar agama agar semangat menuntut ilmu tetap terjaga,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Bidang PD Pontren Kanwil Kemenag Jateng, Ali Ansori, mengapresiasi sinergi antara Pemprov dan Kemenag dalam pendataan. Ia juga menyoroti adanya perlindungan tambahan berupa BPJS Ketenagakerjaan bagi para ustadz yang telah berjalan sejak 2023.
Program ini mendapat respons positif dari masyarakat pesantren. Wafiq Salma, seorang santriwati dari Kendal, mengaku sangat terbantu dengan adanya program tali asih tersebut. Ia berharap dukungan bagi para penghafal Al-Qur’an dapat terus konsisten dilaksanakan oleh pemerintah daerah.**( Joko Longkeyang).

















