banner 728x250

HPN 2026: Pers Berdaulat di Tengah Duka Pemalang

  • Bagikan

AMKMedianews.com, Pemalang – Suasana khidmat menjelang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari 2026 mendatang, terasa berbeda bagi insan pers di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Pemalang. Di saat persiapan perayaan terpusat di Provinsi Banten sedang dimatangkan, Kabupaten Pemalang justru tengah berbalut duka akibat rentetan bencana alam yang menguji rasa kemanusiaan.

Dari dataran tinggi hingga pesisir, wilayah ini sedang tidak baik-baik saja. Di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, serta Desa Bongas dan Jojogan di Kecamatan Watukumpul, tanah longsor telah merenggut ketenangan warga, bahkan memakan korban jiwa. Sementara itu, di ujung utara, warga pesisir Kecamatan Ulujami masih harus “berkawan” dengan banjir rob menahun yang tak kunjung usai.

Mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, HPN 2026 bukan sekadar seremoni. Di tengah kepungan bencana Kabupaten Pemalang, tema ini menjadi pengingat bagi para wartawan tentang fungsi hakiki mereka.

Menurut Walis Erlangga Firrera, CEO Media Online AMKMedianews.com yang berbasis di Kecamatan Randudongkal, tema ini memiliki makna ganda yang sangat mendalam:

Bagi Wartawan: Menjadi nakhoda informasi yang “sehat”. Pers harus mampu menyajikan berita yang akurat dan berbasis data tanpa terjebak sensasi, terutama saat meliput bencana longsor di Watukumpul agar tidak menimbulkan kepanikan massal.

Bagi Narasumber: Pers yang sehat memberikan ruang bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk memberikan edukasi dan solusi konkret terkait penanganan bencana, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga.

Walis Erlangga Firrera menekankan bahwa dalam kondisi darurat bencana, integritas jurnalis dipertaruhkan. Profesionalisme bukan hanya soal kecepatan, tetapi kepatuhan pada aturan main yang baku.”Wartawan harus memegang teguh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Di sana jelas diatur bahwa pers memiliki fungsi edukasi dan kontrol sosial. Jangan sampai karena mengejar clickbait, kita melupakan empati kepada korban bencana di Desa Penakir, Desa Bongas, Desa Jojogan bahkan saudara kita di Kecamatan Ulujami,” ujar Walis Erlangga Firrera.

Selain UU Pers, kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber menjadi harga mati. Hal ini penting agar informasi yang sampai ke masyarakat tetap jernih, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus menghindari penyebaran disinformasi di tengah situasi krisis.

Sebagai pemimpin media yang berlokasi di Desa Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Walis Erlangga Firrera berharap momentum HPN 2026 menjadi titik balik bagi kedaulatan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Pers diharapkan mampu mendorong percepatan pemulihan ekonomi di wilayah terdampak longsor dan memberikan tekanan positif bagi penanganan rob di pesisir Kabupaten Pemalang.

Pers yang berdaulat adalah pers yang mampu berdiri tegak di atas kepentingan publik, menyuarakan jeritan warga yang  tertimbun longsor, hingga mereka yang terendam air laut, demi mewujudkan bangsa yang benar-benar kuat.

“Selamat Hari Pers Nasional ( HPN) Per Tahun 2026 ,” Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”,pungkas Walis Erlangga Firrera.

Pemalang, 8 Februari 2026

Penulis: Walis Erlangga Firrera

Editor: Ahmad Joko SSp, S.H

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *