AMKMedianews.com, Semarang – Provinsi Jawa Tengah menasbihkan diri sebagai primadona investasi nasional setelah mencatatkan realisasi modal tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan data resmi Kementerian Investasi/BKPM yang dirilis pertengahan Januari 2026, sepanjang tahun 2025, total investasi yang masuk ke Bumi Perkemahan ini menembus angka fantastis, yakni Rp88,50 triliun.
Capaian ini melonjak tajam sebesar 28,88 persen jika dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp68,67 triliun. Pertumbuhan signifikan sebesar Rp19,83 triliun ini menjadi bukti kuat bahwa stabilitas dan kemudahan berusaha di Jawa Tengah kian diakui dunia internasional maupun pemodal domestik.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kepercayaan tersebut. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memposisikan diri sebagai “mitra strategis” bagi para pengusaha.”Kami terus berperan sebagai manager marketing investasi yang menjamin kepastian hukum dan keamanan. Harapannya, investor tidak hanya menanamkan modal, tetapi juga merasa nyaman dan terlindungi di Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi dalam keterangannya, Selasa (19/1/2026).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, memaparkan bahwa koridor Pantai Utara (Pantura) kini menjadi tulang punggung ekonomi baru. Kabupaten Kendal memimpin sebagai daerah dengan realisasi investasi terbesar senilai Rp15,86 triliun, diikuti Kota Semarang sebesar Rp11,15 triliun, dan Kabupaten Demak Rp9,06 triliun.”Kehadiran kawasan industri yang terintegrasi di Kendal, Batang, dan Demak terbukti ampuh menarik korporasi besar sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal,” jelas Sakina.
Secara sektor, industri manufaktur masih mendominasi pergerakan modal. Sektor alas kaki dan barang dari kulit menyerap investasi tertinggi senilai Rp11,37 triliun. Tak kalah moncer, industri mesin dan elektronik menyusul dengan angka Rp9,70 triliun.
Dampak nyata dari derasnya arus modal ini tercermin pada serapan tenaga kerja yang mencapai 418.138 orang dari total 105.078 proyek yang berjalan. Dari sisi negara asal, Hong Kong dan Singapura masih menjadi penyumbang modal asing (PMA) terbesar, diikuti oleh Tiongkok dan Korea Selatan.
Menariknya, gairah investasi tidak hanya milik perusahaan raksasa. Sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Jawa Tengah juga mencatat kenaikan positif dengan nilai realisasi mencapai Rp22,143 triliun, atau tumbuh 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.”Sektor mikro menyumbang Rp14,214 triliun. Ini menandakan ekonomi kita tumbuh inklusif hingga ke lapisan terbawah,” tambah Sakina. Dengan capaian sejarah ini, Pemprov Jawa Tengah optimistis dapat menjadikan wilayahnya sebagai gerbang utama investasi di Indonesia melalui penguatan birokrasi dan stabilitas daerah yang berkelanjutan. ( Rangga Firrera)















