
Pemalang– Tidak ada panggung megah. Tidak ada undangan pejabat penting. Hanya halaman sekolah yang dipenuhi siswa, guru, dan tawa. Tapi dari sanalah, SMP Negeri 2 Randudongkal mengirim pesan besar pada ulang tahunnya yang ke-42: mereka tidak sedang sekadar merayakan usia, melainkan menyusun arah baru untuk masa depan.

Perayaan dimulai dengan jalan sehat pada Jumat (7/11), kegiatan rutin yang tampak biasa namun sarat simbol. Sebelum berangkat, seluruh warga sekolah berkumpul untuk doa tahlil mengenang para guru pendahulu yang telah wafat, dipimpin oleh Ust. Umar Sidiq, S.Pd.I.
Momen hening itu menjadi pengingat bahwa sekolah ini tidak lahir dari gedung, tetapi dari pengabdian.
Sejenak kemudian, suasana berubah riuh: musik diputar, balon warna-warni dilepaskan ke langit Randudongkal, menandai semangat baru di usia ke-42.

Dalam sambutannya, Mukhidin, S.Pd., M.A. menegaskan hal sederhana namun penting bahwa rasa bangga menjadi bagian dari sekolah adalah langkah pertama menuju perubahan.
“Belajar bukan hanya soal nilai, tapi juga tentang membangun karakter dan masa depan,” ujarnya.

Empat unit sepeda disiapkan untuk peserta beruntung. Namun di balik hadiah-hadiah itu, tersimpan makna lain: setiap langkah, sekecil apa pun, akan membawa kemajuan.
Kebersamaan itu terasa ketika guru dan siswa bernyanyi bersama di bawah tenda sederhana, tanpa jarak, tanpa formalitas.
Tidak ada protokol hanya tawa, peluh, dan rasa syukur yang nyata.
Keesokan harinya, Sabtu (8/11), halaman sekolah kembali ramai.
Bukan oleh siswa sendiri, melainkan dua puluh sekolah dasar dan madrasah dari sekitar Randudongkal yang datang mengikuti Lomba Senam Anak Indonesia Hebat.
Acara dibuka oleh Rizqi Nusantria Fauziyah, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.
Ia tidak bicara soal piala, tapi soal pertemanan.
“Semoga dari lomba ini, anak-anak belajar bersahabat, bukan sekadar menang,” katanya.
Lomba berakhir menjelang siang, dan meski daftar juara belum diumumkan, satu hal sudah jelas: energi anak-anak itu lebih penting dari hasil perlombaan.
Ketua Panitia, Nizar Arfani Yusuf, S.Pd., mengaku kegiatan ini bukan hal mudah.
Persiapan dilakukan di sela-sela jam mengajar, dengan tenaga terbatas. Tapi hasilnya memuaskan.
“Kami tidak ingin Dies Natalis hanya menjadi perayaan tahunan. Kami ingin semua warga sekolah merasakan maknanya bahwa kita satu langkah, satu semangat,” ucapnya.
Empat puluh dua tahun bukan waktu singkat. Dari masa papan tulis kapur hingga layar digital, sekolah ini telah melewati perubahan besar.
Namun di balik semua itu, satu hal tetap sama: semangat untuk mendidik.
Dies Natalis tahun ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu ditandai dengan megahnya panggung atau ramainya tamu,
melainkan dengan konsistensi menjaga nilai, menguatkan karakter, dan melangkah bersama.
SMP Negeri 2 Randudongkal tidak sedang berpesta.
Mereka sedang berbenah dan mungkin, di situlah letak kemeriahan yang sesungguhnya.

















