AMKMedianews.com, Cilacap – Jarum jam baru menunjuk angka enam pagi di Dermaga Sleko, namun Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, sudah bersiap di atas perahu compreng. Bukan untuk pelesir, melainkan untuk sebuah pembuktian nurani. Ia ingin merasakan sendiri “napas” perjuangan Muchtar, seorang guru yang belasan tahun bertaruh nyawa di jalur laut demi mengajar.
Niat ini berawal dari sebuah pertemuan di studio TVRI pada akhir 2025. Di sana, Sumarno tertegun mendengar rutinitas Muchtar: bangun pukul 04.00 WIB di Purbalingga, memacu motor, lalu menyambung hidup di atas gelombang menuju SMA Negeri 1 Kampung Laut.”Kisah Pak Muchtar adalah tamparan sekaligus inspirasi. Saya datang ke sini untuk melihat langsung medan tempur para guru kita,” ujar Sumarno saat menjejakkan kaki di Dermaga Klaces setelah 150 menit dihantam ombak, Kamis (22/1).
Sambil sesekali mencoba mengemudikan perahu di tengah Laguna Segara Anakan, Sumarno tampak merenung. Baginya, jarak geografis tidak boleh menjadi alasan pembenar atas ketertinggalan peradaban.
Di hadapan ratusan siswa, ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan ijazah, melainkan fondasi martabat bangsa. “Jangan mau kalah dengan keadaan. Semakin tinggi ilmu yang kalian serap, semakin tinggi pula derajat peradaban kita. Pendidikan adalah satu-satunya kunci kunci untuk keluar dari kemiskinan dan menjadi negara maju,” tegasnya dengan nada bicara yang menggugah.
Meski pemerintah telah mengucurkan fasilitas, termasuk moda transportasi perahu bagi pengajar, Sumarno mengakui adanya tembok besar yang sulit dirubuhkan: budaya masyarakat. Di wilayah pesisir ini, sekolah sering kali kalah saing dengan tuntutan mencari nafkah sejak dini.”Fasilitas sudah memadai, gedung sudah berdiri. Kini tantangannya adalah melawan mentalitas. Memotivasi anak untuk tetap konsisten sekolah adalah PR besar kita semua. Saya tegaskan, tidak boleh ada lagi cerita anak putus sekolah di Kampung Laut hanya karena ingin segera melaut,” tandasnya.
Kepala Sekolah SMAN 1 Kampung Laut, Muhammad Lutfi Khamdan, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang prestasi. Di sekolah yang kerap terkepung air rob ini, dua siswanya justru berhasil mengguncang Kabupaten Cilacap dengan menjadi finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kimia dan Astronomi.
Sebagai suntikan semangat, Sumarno menyerahkan bantuan dana pengurukan rob sebesar Rp50 juta dan Rp25 juta untuk renovasi masjid sekolah. Tak hanya bantuan fisik, deretan tas sekolah baru juga dibagikan kepada para siswa sebagai simbol harapan bahwa di ujung samudera ini, mimpi anak bangsa tidak boleh tenggelam oleh pasang laut. ( Joko Longkeyang).

















