AMKMedianews.com, Surakarta – Krisis dokter spesialis di wilayah pelosok Indonesia segera mendapat suntikan tenaga baru. Konsorsium Perguruan Tinggi Wilayah IV yang mencakup Jawa Tengah dan DIY resmi membuka 33 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) serta Subspesialis (PPDSS) baru. Peresmian besar ini digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (12/2).
Langkah strategis ini melibatkan kolaborasi lima institusi pendidikan raksasa: UGM, Undip, UNS, Unsoed, dan UII. Fokus utama dari penambahan prodi ini adalah mencetak pakar di bidang jantung, bedah, kesehatan anak, hingga anestesiologi yang selama ini masih sangat minim distribusinya di wilayah luar Jawa serta area Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (4T).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyambut hangat inisiatif ini. Ia menilai kehadiran prodi baru tersebut sejalan dengan misi pemerintah daerah dalam memperluas jangkauan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).”Kami sangat mendukung akselerasi ini. Kebutuhan tenaga spesialis di desa-desa sangat nyata. Semakin cepat mereka lulus, semakin cepat pelayanan kesehatan masyarakat kita meningkat,” tegas Luthfi di sela acara peluncuran.
Ia juga menginstruksikan jaringan rumah sakit di Jawa Tengah untuk mempererat kerja sama dengan universitas. Hal ini demi memastikan para calon dokter spesialis mendapatkan wahana praktik yang mumpuni sehingga masa studi bisa ditempuh dengan efektif.
Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yunita Dyah Suminar, menjelaskan bahwa percepatan ini didukung oleh fleksibilitas sistem pendidikan. Kini, calon dokter bisa menempuh jalur berbasis universitas (university based) maupun berbasis rumah sakit (hospital based).”Sinergi antara fasilitas kesehatan dan akademisi adalah kunci agar masyarakat tidak lagi kesulitan mengakses layanan medis spesialistik,” tutur Yunita.
Senada dengan itu, Tenaga Ahli Mendiktisaintek, Tri Hanggono Achmad, menyebut momentum ini sebagai misi kemanusiaan nasional. Menurutnya, rasio dokter spesialis di Indonesia harus segera diperbaiki demi ketahanan nasional.”Ini bukan sekadar menambah jumlah mahasiswa, melainkan upaya menjamin hak kesehatan setiap warga negara secara merata melalui kolaborasi akademisi,” pungkas Tri.**( Joko Longkeyang)

















