AMKMedianews.com, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat merespons bencana tanah gerak yang melanda Desa Padasari, Kabupaten Tegal. Sebagai langkah konkret pascakunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Ahmad Luthfi, tim ahli kini diterjunkan untuk menguji kelayakan geologi di empat titik calon lahan relokasi warga.
Langkah ini diambil guna memastikan hunian sementara (huntara) yang akan dibangun berdiri di atas tanah yang stabil, demi menghindari risiko bencana serupa di masa depan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, mengungkapkan bahwa asesmen teknis sedang berlangsung secara intensif. Ada empat lokasi yang masuk dalam radar kajian, meliputi lahan di Desa Padasari, Desa Lebakwangi, dan Desa Capar di Kecamatan Jatinegara, serta satu area milik Perhutani.
”Luas lahan yang kami kaji cukup signifikan, berkisar antara 3 hingga 10 hektare. Tim geologi membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk memastikan struktur tanah di sana benar-benar aman sebelum alat berat masuk,” jelas Agus di Semarang, Senin (9/2).
Di sisi lain, aspek kemanusiaan menjadi prioritas utama. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas C. Penanggungan, menyebutkan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan untuk menyiapkan alat berat guna pembersihan lahan (land clearing).
Berdasarkan data terkini, tercatat 596 kepala keluarga atau lebih dari 2.000 jiwa warga Tegal yang kini menggantungkan hidup di sembilan titik pengungsian. “Kebutuhan dasar mereka kami jamin melalui empat dapur umum yang beroperasi nonstop,” ungkap Bergas.
Tak hanya fokus pada tanah gerak, Pemprov Jateng juga sedang “berperang” melawan banjir di wilayah Pekalongan. Puluhan unit pompa air dikerahkan untuk menyedot genangan di Kota dan Kabupaten Pekalongan.
BPBD bahkan mendatangkan tambahan mobile pump dari Solo, Pemalang, dan Demak guna mempercepat pemulihan aktivitas warga. Sebagai bentuk dukungan nyata, bantuan logistik dan medis senilai ratusan juta rupiah telah digelontorkan untuk membantu ribuan pengungsi banjir di dua wilayah tersebut.*(Joko Longkeyang).

















