banner 728x250

Gelangmanggung Segera Terkoneksi, Trans Jateng Pangkas Biaya Hidup Warga

  • Bagikan
Iklan Banner Horizontal

AMKMedianews.com, Semarang – Harapan akan hadirnya transportasi publik yang murah, nyaman, dan terintegrasi di kawasan Magelang hingga Temanggung kian mendekati kenyataan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi tengah mematangkan operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Gelangmanggung yang ditargetkan mulai mengaspal pada 2027 mendatang.

Langkah strategis ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan aglomerasi yang meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung. Komitmen kolaborasi lintas daerah tersebut telah diformalkan melalui kesepakatan bersama untuk membangun sistem transportasi yang saling menguatkan.”Persiapan ini diawali dengan membangun visi bersama. Kita ingin integrasi transportasi berjalan linier mulai dari sistem primer hingga menjangkau pelosok desa,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, Jumat (23/1/2026).

Dukungan penuh datang dari pemerintah daerah setempat. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah maju untuk menciptakan mobilitas warga yang berkelanjutan. Senada, Dishub Kabupaten Temanggung menyatakan kesiapannya menyiapkan angkutan pengumpan (feeder) guna memastikan jangkauan halte Trans Jateng tetap optimal.

Di sisi lain, Pemprov Jateng memastikan tidak akan mematikan usaha transportasi lokal yang sudah ada. Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Jateng, Bekora Seputranto, menjelaskan bahwa operator eksisting justru akan dirangkul melalui konsorsium dan proses peremajaan armada (scraping). Para kru angkutan lama juga memiliki peluang besar untuk direkrut menjadi bagian dari pramudi atau petugas operasional Trans Jateng.

Secara teknis, 14 armada bus disiapkan untuk melayani rute Terminal Maron (Temanggung) melewati Terminal Tidar (Kota Magelang) hingga berakhir di Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang). Kehadiran koridor ini bukan sekadar soal mobilitas, melainkan instrumen untuk menekan angka kesenjangan antarwilayah.

Berdasarkan data dari tujuh koridor yang telah berjalan, penghematan biaya transportasi warga mencapai angka yang cukup fantastis, yakni berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan. Nilai ini menjadi sangat berarti bagi kantong buruh dan pelajar.

Apalagi, skema tarif murah tetap diberlakukan. Berdasarkan regulasi terbaru, tarif bagi buruh, pelajar, mahasiswa, hingga lansia dan veteran dipatok hanya Rp1.000 dari tarif normal Rp2.000. Saat ini, proses penyusunan desain teknis (Detailed Engineering Design) terus dikebut bersamaan dengan sosialisasi masif kepada Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan masyarakat luas. ( Joko Longkeyang)

Iklan Iklan Iklan Iklan Iklan
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *