banner 728x250

Ahmad Luthfi Dobrak Ekonomi Desa, Jateng Jadi Role Model Nasional

  • Bagikan

AMKMedianews.com, Boyolali – Jawa Tengah mencatatkan sejarah baru dalam peta pembangunan perdesaan Indonesia. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, ribuan desa di Jateng berhasil bertransformasi dari wilayah administratif menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu menembus pasar internasional.

Keberhasilan ini membawa Jawa Tengah terpilih sebagai pusat peringatan Hari Desa Nasional 2026. Kemeriahan acara memuncak di Lapangan Kebun Raya Indrokilo, Desa Butuh, Boyolali, Kamis (15/1), yang turut dihadiri langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto.

Dalam orasinya, Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa kunci kekuatan Jateng terletak pada 4,2 juta UMKM, di mana 3 juta di antaranya tumbuh subur di pelosok desa. Strategi utama yang diusung adalah mendorong UMKM desa untuk “naik kelas” hingga mencapai standar ekspor.”Kita tidak ingin desa hanya jadi penonton. Potensi desa kita kembangkan melalui pendampingan dinas terkait dan kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan. Kini, kita sudah memiliki ‘Desa Ekspor’ yang kualifikasinya diakui dunia,” ujar Luthfi.

Sebagai provinsi dengan jumlah desa terbanyak di Indonesia (7.810 desa), Jawa Tengah menunjukkan progres luar biasa pada 2025. Data terbaru menunjukkan kategori desa sangat tertinggal telah sepenuhnya terhapus dari bumi Jateng.

Saat ini, sekitar 78 persen desa di Jateng sudah masuk klasifikasi mandiri, maju, dan berkembang. Hanya tersisa 15 desa yang masuk kategori tertinggal karena faktor geografis terpencil, yang kini menjadi prioritas intervensi pemerintah agar segera berstatus maju.”Kita memiliki 2.331 Desa Mandiri Energi yang memanfaatkan gas alam dan biogas. Sebanyak 60 persen kebutuhan energinya dipenuhi secara swadaya. Ada pula 899 Desa Wisata yang terbagi dalam kelas rintisan hingga maju,” papar Luthfi mendalam.

Akselerasi ini tidak terjadi secara instan. Luthfi membeberkan program “Satu OPD Satu Desa Dampingan” sebagai senjata utama pengentasan kemiskinan. Hingga periode 2025, tercatat 452 desa telah didampingi dengan total serapan anggaran mencapai Rp112,5 miliar. Anggaran tersebut merupakan buah kolaborasi apik antara APBN, APBD, Dana Desa, serta kontribusi sektor swasta melalui CSR.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Desa dan PDT, Yandri Susanto, menegaskan bahwa apa yang dilakukan di Jawa Tengah adalah pengejawantahan Astacita Presiden Prabowo Subianto.”Membangun desa berarti membangun kedaulatan Indonesia. Kita dorong ekonomi dari akur rumput agar kemiskinan bisa diberantas secara struktural. Jateng telah memberikan landasan yang besar untuk itu,” tegas Yandri. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *