Oleh: Muliyadi – Ketua Umum BI20KRAT
(Purna Praja IPDN Angkatan XX)
Jakarta|31/12/25- Akhir tahun selalu menghadirkan ruang jeda yang berbeda. Ia bukan sekadar penanda pergantian angka kalender, melainkan momentum untuk menengok ke dalam, mengukur jarak antara niat dan ikhtiar, serta menimbang kembali makna perjalanan yang telah kita tempuh bersama. Bagi keluarga besar BI20KRAT, refleksi akhir tahun bukan hanya urusan personal, tetapi kesadaran kolektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana pengabdian ini hendak diarahkan.
Gagasan besar tentang kebersamaan BI20KRAT sejatinya telah tumbuh sejak lama. Bahkan sejak 2019, ketika wacana reuni mulai digagas, semangat yang dibangun bukanlah sekadar temu kangen angkatan, melainkan upaya merajut kembali persaudaraan yang telah tersebar ke berbagai penjuru negeri. Waktu, jarak, dinamika tugas, hingga pandemi sempat menguji ketahanan gagasan tersebut. Namun justru dari proses panjang itulah kita belajar bahwa persaudaraan sejati tidak runtuh oleh keterbatasan fisik, melainkan dikuatkan oleh kesamaan nilai dan komitmen pengabdian.
Reuni yang akhirnya terwujud menjadi simbol bahwa BI20KRAT bukan sekadar kumpulan individu dengan latar belakang sama, tetapi sebuah komunitas nilai. Di sana, kita tidak hanya berbagi cerita masa lalu, melainkan menyatukan pengalaman lapangan, refleksi kepemimpinan, serta kegelisahan yang sama sebagai aparatur negara yang berhadapan langsung dengan realitas masyarakat. Reuni itu menjadi ruang konsolidasi batin dan pikiran, tempat kita menyadari bahwa perjalanan masing-masing rekan—sekecil apa pun perannya—memiliki kontribusi bagi wajah birokrasi Indonesia.
Namun perjalanan BI20KRAT sejatinya dimulai jauh sebelum gagasan reuni itu lahir. Sejak kelulusan pada tahun 2013, kita telah dipertemukan oleh satu takdir pengabdian. Dari hari pertama penugasan, kita ditempatkan di berbagai sudut Indonesia, menghadapi realitas pemerintahan dari level paling dasar. Kita belajar bahwa menjadi aparatur negara bukan hanya tentang struktur dan kewenangan, melainkan tentang keberanian mengambil tanggung jawab di tengah keterbatasan.
Rentang waktu 2013 hingga 2025 adalah fase panjang pembentukan karakter BI20KRAT. Banyak di antara kita yang tumbuh bersama waktu, menapaki jenjang karier dengan dinamika yang tidak selalu mudah. Ada yang berproses cepat, ada yang harus melalui jalan berliku. Ada yang bekerja di pusat kekuasaan, ada pula yang mengabdi di wilayah terluar. Namun semuanya berangkat dari nilai yang sama: loyalitas kepada negara, keberpihakan kepada rakyat, dan kesediaan untuk bekerja dalam senyap.
Dalam fase ini, BI20KRAT sejatinya telah hidup dalam praktik, meski belum terlembagakan secara formal. Solidaritas lintas daerah, saling menopang dalam kesulitan, dan kepedulian terhadap rekan yang tertimpa musibah telah menjadi budaya yang tumbuh alami. Kita mungkin belum menamai kebersamaan itu sebagai organisasi, tetapi nilai BI20KRAT telah bekerja dalam keseharian kita.
Perjalanan ini juga diwarnai kehilangan. Beberapa rekan BI20KRAT telah lebih dahulu dipanggil menghadap Sang Pencipta. Kepergian mereka meninggalkan duka yang mendalam, namun sekaligus menghadirkan kesadaran tentang rapuhnya kehidupan dan pentingnya makna. Mereka yang mendahului kita sejatinya telah menanamkan jejak pengabdian, integritas, dan keteladanan. Dalam setiap doa yang kita panjatkan, tersimpan komitmen bahwa nilai yang mereka wariskan tidak akan berhenti bersama kepergian mereka.
Hari ini, BI20KRAT hadir hampir di seluruh pelosok Indonesia. Rekan-rekan kita bertugas dari Aceh hingga Papua, dari Miangas sampai Pulau Rote. Ada yang menjadi camat, lurah, kepala bidang, sekretaris daerah, pejabat teknis, hingga penggerak sosial di wilayah masing-masing. Banyak yang bekerja tanpa sorotan, jauh dari panggung besar, tetapi justru di situlah kekuatan BI20KRAT diuji dan dibuktikan. Kita adalah wajah negara yang paling dekat dengan rakyat.
Dalam konteks nasional yang terus bergerak dinamis—dengan tantangan birokrasi yang semakin kompleks, tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, serta ekspektasi masyarakat yang semakin kritis—peran BI20KRAT di daerah menjadi sangat strategis. Kita tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi ikut membentuk kepercayaan publik terhadap negara. Setiap keputusan di tingkat tapak adalah cerminan wajah birokrasi secara keseluruhan.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan ini. BI20KRAT berdiri secara sah sebagai entitas hukum. Legalitas ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan penegasan arah dan kedewasaan organisasi. BI20KRAT tidak ingin bergantung pada figur, tidak rapuh oleh pergantian kepemimpinan, dan tidak berjalan tanpa tata kelola. Dengan dasar hukum yang kuat, BI20KRAT menempatkan dirinya sebagai organisasi alumni yang tertib, akuntabel, dan berpandangan jauh ke depan.
Sejalan dengan itu, berdirinya Yayasan Darmabakti Birokrat Nusantara menjadi wujud transformasi nilai menjadi aksi nyata. Yayasan ini bukan simbol prestise, melainkan instrumen pengabdian sosial yang terstruktur. Di tengah berbagai bencana dan krisis kemanusiaan, BI20KRAT memilih untuk hadir tidak hanya dengan empati, tetapi juga dengan kerja nyata—dari bantuan air bersih, logistik, hingga dukungan kemanusiaan lainnya.
Perlu ditegaskan bahwa BI20KRAT tidak berjalan karena satu sosok. Organisasi ini dibangun di atas sistem, nilai, dan kesadaran kolektif. Kepemimpinan adalah amanah yang akan terus bergulir, berganti tangan seiring waktu. Namun ruh pengabdian, persaudaraan, dan integritas harus tetap terjaga. Siapa pun yang memegang tongkat estafet kepemimpinan, BI20KRAT harus terus bergerak dengan arah yang sama.
Justru di sinilah kekuatan BI20KRAT diuji. Ketika organisasi mampu berdiri kokoh tanpa bergantung pada individu, maka ia telah melampaui fase emosional dan memasuki fase peradaban. BI20KRAT tidak boleh berhenti sebagai simbol angkatan, tetapi harus tumbuh menjadi ekosistem pengabdian yang hidup, adaptif, dan relevan lintas generasi.
Apa yang kita bangun hari ini sejatinya adalah rumah besar bersama. Rumah yang tidak hanya menaungi angkatan kita, tetapi juga menjadi warisan nilai bagi anak cucu BI20KRAT dan masyarakat Indonesia. Rumah ini tidak dibangun dengan ego, melainkan dengan kesadaran kolektif. Tidak dengan simbol semata, tetapi dengan keteladanan dan kerja nyata.
Ke depan, tantangan kita tidak akan semakin ringan. Namun harapan kita harus tetap besar. BI20KRAT harus terus tumbuh menjadi organisasi yang solid, dewasa, dan memberi solusi. Kita perlu menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan, memperkuat kolaborasi lintas wilayah dan lintas profesi, serta memastikan bahwa kehadiran BI20KRAT selalu membawa manfaat.
Akhirnya, refleksi ini saya tutup dengan keyakinan bahwa perjalanan BI20KRAT bukanlah perjalanan yang sia-sia. Ia adalah perjalanan persaudaraan, perjalanan pengabdian, dan perjalanan nilai. Mari kita sambut tahun-tahun mendatang dengan kerendahan hati, semangat gotong royong, dan tekad untuk terus memberi yang terbaik.
Walau raga kita terpisah jauh oleh tugas dan jarak, namun hati insan BI20KRAT akan selalu dekat—terikat oleh satu komitmen: mengabdi dengan integritas, bekerja dengan nurani, dan menjaga persaudaraan untuk Indonesia yang lebih baik.***
REFLEKSI AKHIR TAHUN BI20KRAT
Dari Persaudaraan hingga Pengabdian Masyarakat

















