AMKMedianews.com, Semarang – Kegelisahan orang tua mengenai keterbatasan daya tampung SMA/SMK negeri di Jawa Tengah setiap tahun ajaran baru kini menemui titik terang. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, negara hadir memberikan jaminan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang mimpi anak-anak untuk terus belajar.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan Program Sekolah Kemitraan, sebuah skema inovatif yang menggandeng sekolah swasta untuk menampung siswa dari keluarga kurang mampu secara gratis.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menyeimbangkan jumlah lulusan SMP yang terus meningkat dengan kapasitas sekolah negeri yang terbatas. Melalui program ini, pemerintah menempatkan siswa prasejahtera di 56 SMA dan 83 SMK swasta yang telah ditunjuk sebagai mitra.”Pendidikan adalah investasi masa depan. Kami memastikan pintu sekolah tidak tertutup bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Di sekolah mitra, biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung pemerintah,” tegas Ahmad Luthfi dalam refleksinya, Sabtu (27/12/2025).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran 2025/2026, sebanyak 2.390 murid telah diterima melalui program ini dengan dukungan anggaran APBD sebesar Rp2,39 miliar. Selain itu, pemerintah juga sedang memproses fasilitas tambahan bagi 2.614 murid lainnya melalui skema pembiayaan cadangan yang akan digulirkan pada Januari 2026.
Selain pemerataan akses, Jawa Tengah juga menunjukkan komitmennya pada pengembangan talenta istimewa melalui SMA Negeri Keberbakatan Olahraga. Sekolah berasrama ini didesain khusus agar para atlet muda bisa menyeimbangkan antara latihan intensif dan pendidikan formal.
Dengan menerapkan Kurikulum Merdeka yang adaptif, sekolah ini membina 252 murid dari 21 cabang olahraga unggulan. Hasilnya terbukti nyata; pada ajang Popnas 2025, para siswa sekolah ini sukses mengharumkan nama Jawa Tengah dengan menyabet 6 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan angka kelulusan, melainkan ikhtiar merawat potensi setiap anak bangsa.”Kami ingin memastikan setiap anak memiliki ruang untuk melangkah, baik itu di ruang kelas maupun di arena pertandingan. Tugas negara adalah memastikan pintu pendidikan tetap terbuka lebar bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang,” pungkas Sadimin.
Melalui Sekolah Kemitraan dan Sekolah Keberbakatan Olahraga, Jawa Tengah kini menjadi percontohan bagaimana negara mampu menjembatani jarak antara keterbatasan keadaan dengan luasnya cita-cita generasi muda.**( Rangga Firrera)
















