AMKMedianews.com, Surakarta – Nuansa sakral menyelimuti Pura Mangkunegaran saat perhelatan agung Tingalan Jumenengan Dalem ke-4 Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng (SIJ) KGPAA Mangkunegara X digelar pada Selasa (27/1/2026). Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud syukur atas kepemimpinan Kanjeng Gusti Bhre yang dinilai mampu membawa napas modernitas tanpa mencabut akar tradisi.
Prosesi diawali dengan defile keprajuritan yang gagah, disusul dengan pementasan Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Alunan gamelan yang menggema di pringgitan menciptakan atmosfer khidmat yang memukau ratusan pasang mata yang hadir.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, yang hadir mewakili jajaran Pemerintah Provinsi, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Mangkunegaran dalam menjaga warisan leluhur. Menurutnya, peran Mangkunegaran sangat krusial sebagai pilar kebudayaan sekaligus motor penggerak sektor pariwisata di Jawa Tengah.”Kami mengucapkan selamat atas Tingalan Jumenengan ke-4 Gusti Bhre. Harapan kami, beliau senantiasa diberikan kesehatan untuk terus membawa kemajuan bagi Mangkunegaran,” ujar Sumarno selepas acara.
Lebih lanjut, Sumarno menekankan pentingnya kolaborasi antara keraton dan pemerintah dalam memperkuat daya tarik wisata Kota Surakarta. Ia berharap nilai-nilai luhur yang dijaga ketat oleh Mangkunegaran dapat menjadi fondasi karakter masyarakat di tengah arus globalisasi.
Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Bhre menegaskan komitmennya untuk membawa Pura Mangkunegaran tetap relevan dengan perkembangan zaman. Baginya, kebudayaan harus menjadi sesuatu yang hidup dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Acara ini juga menjadi magnet bagi tokoh nasional. Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, tampak hadir bersama sang istri, Selvi Ananda. Kehadiran mereka menambah sorotan publik terhadap acara yang melibatkan sekitar 1.000 partisipan, mulai dari pelajar hingga komunitas lokal tersebut.
Sebagai bagian dari tradisi, upacara ini juga diisi dengan pemberian kekancingan (gelar kehormatan) kepada sejumlah tokoh masyarakat yang dianggap berjasa dalam pelestarian budaya. Tingalan Jumenengan sendiri berasal dari kata jumeneng yang berarti bertakhta, sebuah refleksi tahunan atas kepemimpinan sang penguasa.( Joko Longkeyang).

















