banner 728x250

Kata ESDM Longsor Lereng Slamet Murni Faktor Alam, Bukan Akibat Tambang

  • Bagikan
Iklan Banner Horizontal

AMKMedianews.com, Semarang – Isu liar yang menyebutkan aktivitas pertambangan sebagai biang keladi longsor di lereng Gunung Slamet akhirnya dipatahkan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa bencana yang melanda wilayah Pemalang dan Purbalingga tersebut murni dipicu oleh anomali cuaca dan faktor geologis.

​Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian teknis, mahkota longsor terjadi akibat akumulasi hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut selama berhari-hari. Hal ini mengakibatkan tanah kehilangan kestabilannya.

​Agus membedah secara rinci kondisi litologi atau jenis batuan di kawasan Gunung Slamet yang memiliki tingkat porositas tinggi. Sifat tanah yang mudah menyerap air, berpadu dengan kemiringan lereng yang terjal, membuat titik jenuh air cepat tercapai dan memicu gerakan tanah.

​Terkait spekulasi publik mengenai dampak penambangan, Agus memberikan klarifikasi tegas. Data lapangan menunjukkan posisi aktivitas tambang berada jauh di bawah lokasi bencana.​”Aktivitas tambang itu letaknya di kaki gunung, sementara longsor terjadi di tubuh gunung dengan perbedaan elevasi mencapai ratusan meter. Jadi, tidak ada keterkaitan teknis antara keduanya,” ujar Agus di Semarang, Rabu (28/1/2026).

​Meski longsor kali ini dipicu faktor alam, bukan berarti pemerintah mengendurkan pengawasan terhadap sektor pertambangan. Pemprov Jateng justru kian memperketat penerapan good mining practice. Langkah nyata ditunjukkan dengan pengusulan pencabutan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) bagi PT Dinar Batu Agung.

​Perusahaan tersebut dinilai tidak kooperatif dalam menjalankan rekomendasi perbaikan lingkungan yang telah diberikan. Agus menegaskan, pembinaan akan selalu diikuti oleh pengawasan ketat, dan jika tetap melanggar, sanksi administratif hingga pencabutan izin adalah harga mati.

​Untuk meminimalkan risiko di masa depan, Dinas ESDM Jateng rutin menerbitkan peta potensi gerakan tanah setiap bulan. Data ini merupakan hasil integrasi antara titik rawan geologis dengan prakiraan curah hujan dari BMKG sebagai instrumen peringatan dini (early warning system) bagi kepala daerah.”Masyarakat harus waspada, terutama saat hujan lebat turun dalam durasi lama. Kami terus berupaya memperkuat langkah pencegahan agar dampak bencana di Jawa Tengah dapat ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya.( Joko Longkeyang).

Iklan Iklan Iklan Iklan Iklan
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *