AMKMedianews.com, SEMARANG – Masyarakat Jawa Tengah diminta untuk tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih akan menyelimuti sejumlah wilayah hingga 9 Februari 2026 mendatang.
Sepanjang Januari saja, tercatat sudah ada 45 rentetan bencana yang melanda berbagai daerah di Jawa Tengah, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menunjukkan dampak yang cukup masif, yakni tujuh jiwa meninggal dunia dan lebih dari 300 ribu warga terdampak.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, menegaskan bahwa Pemprov terus bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan. Selain rekayasa cuaca, pihaknya fokus pada pemulihan jalur logistik agar bantuan medis dan pangan bagi 9.729 pengungsi tidak terhenti.”Pastikan warga yang terdampak mendapatkan haknya. Tim di lapangan juga terus kami dorong agar bekerja optimal tanpa kendala teknis,” ujar Sumarno selepas menghadiri Rapat Paripurna di Gedung Berlian, Senin (2/2/2026).
Tidak hanya fokus pada fisik, pemerintah juga memberikan atensi pada kesehatan mental para korban. Layanan trauma healing bagi anak-anak dan kaum ibu rutin digelar di titik pengungsian, seperti yang berlangsung di Kecamatan Pulosari, Pemalang.
Sumarno menambahkan, setelah fase darurat ini tuntas, Pemprov Jateng segera masuk ke tahap rehabilitasi infrastruktur. “Kami sudah siapkan rencana perbaikan, tinggal menunggu cuaca benar-benar stabil untuk memulai perbaikan fasilitas yang rusak,” jelasnya.
Kanal Pengaduan Cepat
Mengingat ancaman hujan lebat dan angin kencang masih mengintai, Sumarno meminta warga proaktif melaporkan kondisi darurat melalui kanal resmi. Masyarakat dapat menghubungi nomor darurat 112, WhatsApp Pusdalops di 08813809409, atau nomor Dinas Sosial Jateng (024) 8454962.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, turut mengingatkan masyarakat untuk menjauhi bantaran sungai, menghindari berteduh di bawah baliho atau pohon besar yang rawan tumbang, serta membatasi aktivitas luar ruangan saat hujan disertai petir melanda.( Rangga Firrera).

















