AMKMedianews.com, Jakarta – Etos kerja tenaga kerja asal Jawa Tengah kini semakin mendapat pengakuan berkelas di panggung internasional. Bukan lagi sekadar mengisi pos pekerja kasar, sumber daya manusia (SDM) asal Bumi Sakti ini mulai dibidik untuk menduduki kursi manajerial atau pimpinan di berbagai perusahaan di Jepang.
Kabar membanggakan tersebut mencuat usai Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menggelar pertemuan dengan Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/1). Pertemuan ini menandai evolusi hubungan bilateral yang kini bergeser ke arah pengembangan karier berkelanjutan.”Pemerintah Prefektur Kagawa sangat tertarik dengan kualitas tenaga kerja kita. Mereka bahkan siap melatih anak-anak Jateng agar bisa menjadi head manager. Ini adalah lompatan besar,” tutur Gus Yasin, mewakili Gubernur Ahmad Luthfi.
Data menunjukkan bahwa daya tarik Jepang bagi warga Jateng terus meningkat signifikan. Jika pada 2024 jumlah penempatan tercatat 3.760 orang, angka tersebut melejit hingga 5.712 orang pada 2025, atau tumbuh sekitar 52 persen.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng merespons peluang ini dengan mengoptimalkan 245 ribu lulusan SMK setiap tahunnya. Fokus utamanya adalah menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan standar industri global agar lulusan siap tempur sejak hari pertama.
Gubernur Kagawa, Ikeda Toyohito, memberikan apresiasi atas kontribusi 4.000 pekerja Indonesia yang saat ini telah menopang roda ekonomi di wilayahnya. “Kami menjamin keamanan dan kenyamanan mereka. Dukungan pendidikan bahasa Jepang pun kami berikan sejak sebelum keberangkatan,” ungkap Ikeda.
Selain “ekspor” tenaga kerja berkualitas, kolaborasi ini juga memperkokoh posisi Jepang sebagai salah satu investor utama di Jawa Tengah. Sepanjang 2021 hingga 2025, total modal yang digelontorkan Jepang mencapai Rp24,216 triliun, menempatkannya di posisi ketiga investor terbesar.
Realisasi investasi secara umum di Jateng pun melampaui ekspektasi, yakni menembus Rp88,57 triliun pada 2025. Sebaran proyek strategis ini mencakup sektor energi dan manufaktur di wilayah Batang, Kendal, hingga Semarang.”Kami tidak ingin semua orang harus ke luar negeri. Strategi besarnya adalah membawa industri Jepang ke Jateng agar lapangan kerja lokal terbuka lebar,” tambah Gus Yasin.
Di sektor pendidikan, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Syamsudin Isnaeni, menegaskan bahwa pelatihan bahasa Jepang akan menjadi prioritas baru di tingkat SMK melalui program Go Global.
Namun, ia menekankan pentingnya seleksi yang humanis. “Kami akan identifikasi dulu. Anak harus benar-benar memiliki tekad kuat dan mendapatkan restu penuh dari orang tua sebelum masuk ke program pelatihan bahasa ini,” pungkasnya. **( Joko Longkeyang).
















