banner 728x250
  • Bagikan
Iklan Banner Horizontal

Diterjang Banjir Bandang Pulosari Terisolasi, Ribuan Pengungsi Menanti Bantuan

​AMKMedianews.com, Pemalang  – Jerit pilu menyelimuti lereng Gunung Slamet setelah banjir bandang menyapu pemukiman warga pada akhir pekan lalu. Hingga Senin (26/1) petang, sebanyak 2.292 warga di Kecamatan Pulosari dan Moga masih tertahan di titik-titik pengungsian. Akses logistik kini menjadi tantangan berat setelah puluhan jembatan dilaporkan hancur diterjang arus.

​Data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang menunjukkan betapa masifnya dampak “amuk” air kali ini. Tercatat sedikitnya 22 jembatan rusak berat hingga putus total, yang mengakibatkan konektivitas antar-desa lumpuh. Di Desa Penakir saja, 11 jembatan tak lagi bisa dilalui, termasuk jalur vital penghubung Dusun Silegok dan Sipendil di Desa Gunungsari.

​Bencana ini tidak hanya merusak struktur bangunan, tetapi juga memutus akses air bersih. Di Desa Jurangmangu, jaringan perpipaan sepanjang dua kilometer hanyut tak bersisa. Kondisi ini membuat kebutuhan akan tandon air bersih dan MCK portabel menjadi sangat mendesak di lokasi pengungsian.”Fokus utama kami adalah evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar. Saat ini, dapur umum di kantor kecamatan dan Gedung NU terus bekerja ekstra untuk memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari,” ungkap petugas Pusdalops BPBD Pemalang dalam laporan resminya.

​Meski cuaca di wilayah Pulosari masih dibayangi hujan ringan, semangat gotong royong warga tak surut. Pantauan di lapangan menunjukkan warga bersama petugas gabungan mulai membangun jembatan darurat dari kayu dan bambu. Langkah ini diambil agar bantuan medis dan logistik bisa menembus daerah yang sebelumnya terisolasi.

​Satu orang dilaporkan meninggal dunia dalam musibah ini, sementara tujuh orang lainnya di Desa Sima masih menjalani perawatan akibat luka-luka. Kerusakan fasilitas publik pun cukup memprihatinkan, mencakup satu unit sekolah dasar, taman kanak-kanak, hingga tempat ibadah yang mengalami kerusakan struktural.

​Tim relawan di lapangan mencatat bahwa pengungsi sangat membutuhkan bantuan spesifik. Selain bahan pangan, barang-barang seperti selimut, popok lansia, obat-obatan, dan tabung gas untuk dapur umum sangat dinantikan.

​Bantuan mulai mengalir dari berbagai instansi seperti Kejari Pemalang, Kemenag, hingga komunitas guru, namun jumlahnya masih jauh dari mencukupi untuk melayani ribuan penyintas yang tersebar di delapan titik pengungsian utama. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat luas untuk bahu-membahu meringankan beban warga terdampak, sembari tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. ( Joko Longkeyang)

Iklan Iklan Iklan Iklan Iklan
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *